Saturday, February 23, 2008

Busuk pangkal batang (gummy stem bligh)

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis (Passerini) Chiu et Walker. Penyakit busuk pangkal batang banyak ditemukan di sentra-sentra penanaman semangka, timun dan melon di Indonesia. Gejala serangan ini ditandai pada batang yang terserang seperti tercelup minyak, kemudian keluar lendir berwarna merah coklat, pada akhirnya tanaman layu dan mati.

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phytopthora sp. Cendawan ini menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat atau layu tiba-tiba, pada bagian batang di atas media tanam yang terinfeksi menjadi lunak dan berwarna hijau gelap atau coklat gelap. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan batang roboh atu bengkok. Penyakit tersebut menyukai media tanam dan tanaman yang terlalu lembab dan suhunya lebih dari 20°C.

Teknik pengendalian
Pada beberapa kasus, penyakit busuk pangkal batang sebagai akibat dari media tanam yang tidak steril, dengan demikian untuk pencegahan preventif media penanaman harus steril. Pada tanaman yang terserang daun-daunnya harus dirompes (dibersihkan), kemudian tanaman disemprot dengan fungisida , dan pada pangkal batang yang terserang dioles dengan larutan fungisida tersebut. Fungisida yang biasa digunakan adalah Derosal 500 SC, Sandofan MZ10/56 WP, Dithane M-45 80 WP, dan Ridomil MZ8/64 WP.

Jenis Penyakit di Paprika (Layu Bakteri (bacterial wilt)

Penyakit layu pada tanaman in disebabkan oleh bakteri Erwinia tracheiphila E.F. Sm pada tanaman Cucurbitaceae. Tetapi pada tanaman Solanaceae disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Tanaman yang terserang penyakit layu bakteri akan ditandai dengan daun tanaman layu satu persatu meskipun warna daun tetap hijau, dan akhirnya tanaman layu secara keseluruhan. Apabila pangkal batang tanaman yang layu dipotong melintang akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket.

Teknik pengendalian
Cara pengendalian yang dapat dilakukan adalah , dengan sterilisasi media, penggunaan bibit yang sehat, atau dengan perlakuan preventif benih yang direndam dengan bakterisida Agrimycin (oxytetracyclin dan streptomycin sulphate) atau Agrept (streptomycin sulphate) dengan kosentrasi yang di anjurkan. Cara lain adalah usahakan disekitar tanaman bersih dan kondisi tidak terlalu lembab.

Layu Fusarium
Penyakit layu fusarium ( Fusarium oxysporum f-sp. melonis Snyd. et Hans) menyerang pada tanaman Solanaceae dan Cicurbitaceae dari muali fase pembibitan. Layu fusarium menginfeksi tanaman lewat perakaran dan berkembang di pembuluh kayu. Di dalam tanaman, jamur tersebut menyebabkan penyumbatan jaringan yang mentranslokasikan air, sehingga terjadi penguningan pada daun-daun dan tanaman menjadi layu.

Gejala serangan pada tanaman dewasa ditandai adanya daun-daun menjadi pucat, bagian atas tanaman layu dan akhirnya mati. Apabila diamati pada batang tanaman terdapat goresan dan mempunyai massa spora cendawan berwarna merah jambu, dan bila batang dibelah tampak pembuluh kayu berwarna coklat mulai dari akar sampai ke cabang-cabang. Pada penampang melintang batang tampak adanya cincin berwarna coklat di bawah kulit batang. Pembuluh kayu berwarna coklat tetap kering dan tidak basah seperti pada layu bakteri.

Teknik pengendalian
Pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan penggunaan media tanam yang steril dan ber-pH netral. Dapat juga dilakukan secara kimawi pada tanaman dengan menggunakan fungisida Derosal 500 SC, Benlate, dan Ridomil MZ8/64 WP.

Jenis Hama di Paprika (Leaf Miner)


Leaf Miner
Jenis yang banyak menyerang beberapa jenis tanaman bunga seperti chrysant adalah Liriomyza trifolii. Serangga ini bersifat polifag (memakan berbagai jenis tanaman), mempunyai lebih dari 70 jenis tanaman inang. Tanaman yang sering menjadi inang adalah tanaman yang termasuk dalam famili Leguminoseae, Malvaceae, Solanaceae, dan Compositae.

Gejala serangan
Lalat betina yang akan bertelur memasukkan ovipositornya (alat bertelur) ke dalam jaringan daun, dan akan terlihat bintik-bintik warna putih yang merupakan telur-telur serangga. Telur-telur tersebut kemudian akan menetas menjadi larva. Pada stadia inilah serangan leaf miner sangat merugikan karena mengorok jaringan daun, sehingga pada daun terlihat adanya garis-garis bewarna putih. Larva Liriomyza mengorok daun di bawah epidermis daun, sehingga terbentuk bekas korokan berbentuk jala tidak teratur berwarna putih dengan diameter bekas korokan 1,5-2 mm. Bila terjadi serangan hebat, daun akan tampak putih, karena yang tersisa hanya lapisan tipis bagian luar saja.

Siklus hidup
Leaf miner berkembang biak dengan telur. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor lalat sekitar 600 butir dalam 2-3 hari musim bertelur. Telur tersebut akan menetas dalam waktu 2-8 hari yang akan menjadi larva. Larva di dalam daun akan bertahan selama 4-6 hari, kemudian berubah menjadi pupa. Pada stadia pupa ini leaf miner akan beristirahat selama 8-11 hari, kemudian akan keluar dari jaringan daun dan terbang sebagai imago leaf miner. Pada umur 5-8 setelah menjadi imago, leaf miner siap untuk meletakkan telurnya pada tanaman inang. Lubang di dalam daun bekas tempat menetas telur leaf miner akan berwarna hitam bila imago sudah keluar dari dalam daun.

Leaf miner untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya memerlukan waktu sekitar 19-33 hari, sehingga dalam setahun terjadi 8-12 generasi.

Teknik pengendalian
Leaf miner mempunyai banyak tanaman inang, sehingga penggendalian dengan kultur teknis dapat dengan cara membersihakan tanaman inang yang ada di sekitar tanaman produksi, sehngga dapat menurunkan populasinya. Karena telur berada di dalam jaringan daun, maka insektisida yang biasa di pakai adalah sistemik, misalkan Trigard (siromazin 75%), minimal 14 hari sekali dilakukan penyemprotan, supaya siklusnya terputus.

Apabila pengendalian terhadap telur dan larva leaf miner sudah dilakukan, selanjutnya dilakukan pengendalian terhadap stadia dewasanya agar tidak menyebar ke tanaman lain. Untuk pengendalian leaf miner dapat dilakukan penyemprotan Agrimec 18 EC, Pegasus 500 SC, dan Matador 25 EC. Penyemprotan dilakukan pada seluruh bagian tanaman dan tanaman inang disekitarnya.

Saturday, February 9, 2008

Jenis Hama di Paprika (Aphis-Kutu daun)

Kutu Daun (Aphis gossypii Glover)
Kutu daun termasuk dalam famili Aphididae ordo Homoptera, serangga ini bertubuh lunak, berukuran 4-8 mm. Kelompok Aphids biasanya berkoloni di bawah permukaan daun atau sela-sela daun, hama ini mengekskresikan embun madu, adanya embun madu yang dikeluarkan kutu daun dapat dilihat dengan terdapatnya semut atau embun jelaga yang berwarna hitam. Munculnya embun jelaga ini menyebabkan permukaan daun tertutupi sehingga akan menghambat proses fotosintesis. Aphids menyerang tanaman Cabe, Paprika, Timun, Semangka, Melon, Kubis dan Kailan.

Gejala serangan
Hama ini mengisap cairan daun, sehingga daun tanaman menggulung, sedangkan pucuk tanaman menjadi keriting. Aphids juga merupakan vektor penyakit virus. Pada fase nimfa dan imago dapat mengisap cairan pada dasar bunga, sehingga mengakibatkan bentuk bunga rusak.

Siklus hidup
Perkembangan kutu daun secara partenogenetik dan vivipar. Di daerah tropis umumnya populasi kutu daun dengan cepat, populasi kutu daun sangat tinggi pada awal musim kering, sedangkan pada periode kering yang panjang dan hujan lebat populasinya sangat menurun.

Kebanyakan telurnya hidup di musim dingin, kemudian menghasilkan individu-individu yang tidak bersayap dan bersayap. Pada jenis bentuk-bentuk yang bersayap ini pndah ke tumbuhan inang yang berbeda dan proses produksi berlanjut. Di daerah tropis untuk menyelesaiakan satu siklus hidupnya diperlukan waktu rata-rata 8,2-11, 4 hari.

Teknik pengendalian
Hama Aphids bisa dikendalikan dengan cara melakukan penanaman serempak, sehingga tidak ada perbedaan umur tanaman dalam satu hamparan. Dengan melihat gejala serangan di permukan daun yang kelihatan mengkilap, maka bisa dilakukan penyemprotan dengan pestisida. Pestisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan Aphids adalah Confidor 200 SL, Curacron 500 EC, dan Pegasus 500 SC.

Jenis Hama di Paprika (Thrips)


Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Jenis serangga ini bentuknya kecil, mempunyai sayap seperti duri yang tidak berangka. Kebanyakan jenis ini akan loncat dari satu tempat ke tempat lain, dan gerakannya cukup lincah. Karena kemampuan terbangnya lemah, maka untuk perpindahan da
tempat ke tempat lainnya sangat dipengaruhi oleh angin dan para pekerja dapat juga sebagai mediator perpindahan tempat.

Gejala serangan
Hama ini menyerang mulai dari pembibitan sampai tanaman dewasa. Thrips menyerang tanaman cabai, Paprika, Timun, Semangka dan Melon. Thrips menyerang tanaman dengan cara meraut-mengisap. Gejala serangan terlihat pada pucuk tanaman, daun-daun muda atau tunas-tunas baru keriting bahkan berbecak-becak kekuningan, tanaman keriting dan kerdil tidak dapat membenetuk buah secara normal, sebagai akibat diisapnya isi sel yang kemudian terisi dengan udara. Kalau gejala ini timbul perlu diwaspadai karena tanaman bisa juga telah tertular virus yang dibawa hama thrips.

Siklus hidup
Thrips berukuran sangat kecil antara 0,5 – 1,5 mm. Imago meletakan telur di permukaan bawah daun atau pada kelopak dan mahkota bunga. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina berkisar antara 30-300 butir, tergantung mutu dan jumlah makanan yang tersedia. Thrips mengalami dua instar nimfa dan stadia pupa, nimfa thrips berwarna kekuning-kuningan, sedangkan thrips dewasa berwarna coklat kehitaman. Instar pertama dan kedua merupakan fase aktif, sedang nimfa instar selanjutnya adalah prapupa dan pupa yang mempunyai fase istirahat. Untuk menyelesaikan satu siklus hidup thrips, paling sedikit membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Teknik pengendalian
Teknik pengendalian yang cukup efektif adalah dengan cara pencegahan serangan thrips dengan aplikasi pestisida. Pestisida yang biasa digunakan adalah Agrimec 18 EC, Confidor 200 SL, Curacron 500EC, Mesurol 50 WP, dan Pegasus 500 SC.