Saturday, February 23, 2008

Busuk pangkal batang (gummy stem bligh)

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis (Passerini) Chiu et Walker. Penyakit busuk pangkal batang banyak ditemukan di sentra-sentra penanaman semangka, timun dan melon di Indonesia. Gejala serangan ini ditandai pada batang yang terserang seperti tercelup minyak, kemudian keluar lendir berwarna merah coklat, pada akhirnya tanaman layu dan mati.

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phytopthora sp. Cendawan ini menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat atau layu tiba-tiba, pada bagian batang di atas media tanam yang terinfeksi menjadi lunak dan berwarna hijau gelap atau coklat gelap. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan batang roboh atu bengkok. Penyakit tersebut menyukai media tanam dan tanaman yang terlalu lembab dan suhunya lebih dari 20°C.

Teknik pengendalian
Pada beberapa kasus, penyakit busuk pangkal batang sebagai akibat dari media tanam yang tidak steril, dengan demikian untuk pencegahan preventif media penanaman harus steril. Pada tanaman yang terserang daun-daunnya harus dirompes (dibersihkan), kemudian tanaman disemprot dengan fungisida , dan pada pangkal batang yang terserang dioles dengan larutan fungisida tersebut. Fungisida yang biasa digunakan adalah Derosal 500 SC, Sandofan MZ10/56 WP, Dithane M-45 80 WP, dan Ridomil MZ8/64 WP.

Jenis Penyakit di Paprika (Layu Bakteri (bacterial wilt)

Penyakit layu pada tanaman in disebabkan oleh bakteri Erwinia tracheiphila E.F. Sm pada tanaman Cucurbitaceae. Tetapi pada tanaman Solanaceae disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Tanaman yang terserang penyakit layu bakteri akan ditandai dengan daun tanaman layu satu persatu meskipun warna daun tetap hijau, dan akhirnya tanaman layu secara keseluruhan. Apabila pangkal batang tanaman yang layu dipotong melintang akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket.

Teknik pengendalian
Cara pengendalian yang dapat dilakukan adalah , dengan sterilisasi media, penggunaan bibit yang sehat, atau dengan perlakuan preventif benih yang direndam dengan bakterisida Agrimycin (oxytetracyclin dan streptomycin sulphate) atau Agrept (streptomycin sulphate) dengan kosentrasi yang di anjurkan. Cara lain adalah usahakan disekitar tanaman bersih dan kondisi tidak terlalu lembab.

Layu Fusarium
Penyakit layu fusarium ( Fusarium oxysporum f-sp. melonis Snyd. et Hans) menyerang pada tanaman Solanaceae dan Cicurbitaceae dari muali fase pembibitan. Layu fusarium menginfeksi tanaman lewat perakaran dan berkembang di pembuluh kayu. Di dalam tanaman, jamur tersebut menyebabkan penyumbatan jaringan yang mentranslokasikan air, sehingga terjadi penguningan pada daun-daun dan tanaman menjadi layu.

Gejala serangan pada tanaman dewasa ditandai adanya daun-daun menjadi pucat, bagian atas tanaman layu dan akhirnya mati. Apabila diamati pada batang tanaman terdapat goresan dan mempunyai massa spora cendawan berwarna merah jambu, dan bila batang dibelah tampak pembuluh kayu berwarna coklat mulai dari akar sampai ke cabang-cabang. Pada penampang melintang batang tampak adanya cincin berwarna coklat di bawah kulit batang. Pembuluh kayu berwarna coklat tetap kering dan tidak basah seperti pada layu bakteri.

Teknik pengendalian
Pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan penggunaan media tanam yang steril dan ber-pH netral. Dapat juga dilakukan secara kimawi pada tanaman dengan menggunakan fungisida Derosal 500 SC, Benlate, dan Ridomil MZ8/64 WP.

Jenis Hama di Paprika (Leaf Miner)


Leaf Miner
Jenis yang banyak menyerang beberapa jenis tanaman bunga seperti chrysant adalah Liriomyza trifolii. Serangga ini bersifat polifag (memakan berbagai jenis tanaman), mempunyai lebih dari 70 jenis tanaman inang. Tanaman yang sering menjadi inang adalah tanaman yang termasuk dalam famili Leguminoseae, Malvaceae, Solanaceae, dan Compositae.

Gejala serangan
Lalat betina yang akan bertelur memasukkan ovipositornya (alat bertelur) ke dalam jaringan daun, dan akan terlihat bintik-bintik warna putih yang merupakan telur-telur serangga. Telur-telur tersebut kemudian akan menetas menjadi larva. Pada stadia inilah serangan leaf miner sangat merugikan karena mengorok jaringan daun, sehingga pada daun terlihat adanya garis-garis bewarna putih. Larva Liriomyza mengorok daun di bawah epidermis daun, sehingga terbentuk bekas korokan berbentuk jala tidak teratur berwarna putih dengan diameter bekas korokan 1,5-2 mm. Bila terjadi serangan hebat, daun akan tampak putih, karena yang tersisa hanya lapisan tipis bagian luar saja.

Siklus hidup
Leaf miner berkembang biak dengan telur. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor lalat sekitar 600 butir dalam 2-3 hari musim bertelur. Telur tersebut akan menetas dalam waktu 2-8 hari yang akan menjadi larva. Larva di dalam daun akan bertahan selama 4-6 hari, kemudian berubah menjadi pupa. Pada stadia pupa ini leaf miner akan beristirahat selama 8-11 hari, kemudian akan keluar dari jaringan daun dan terbang sebagai imago leaf miner. Pada umur 5-8 setelah menjadi imago, leaf miner siap untuk meletakkan telurnya pada tanaman inang. Lubang di dalam daun bekas tempat menetas telur leaf miner akan berwarna hitam bila imago sudah keluar dari dalam daun.

Leaf miner untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya memerlukan waktu sekitar 19-33 hari, sehingga dalam setahun terjadi 8-12 generasi.

Teknik pengendalian
Leaf miner mempunyai banyak tanaman inang, sehingga penggendalian dengan kultur teknis dapat dengan cara membersihakan tanaman inang yang ada di sekitar tanaman produksi, sehngga dapat menurunkan populasinya. Karena telur berada di dalam jaringan daun, maka insektisida yang biasa di pakai adalah sistemik, misalkan Trigard (siromazin 75%), minimal 14 hari sekali dilakukan penyemprotan, supaya siklusnya terputus.

Apabila pengendalian terhadap telur dan larva leaf miner sudah dilakukan, selanjutnya dilakukan pengendalian terhadap stadia dewasanya agar tidak menyebar ke tanaman lain. Untuk pengendalian leaf miner dapat dilakukan penyemprotan Agrimec 18 EC, Pegasus 500 SC, dan Matador 25 EC. Penyemprotan dilakukan pada seluruh bagian tanaman dan tanaman inang disekitarnya.

Saturday, February 9, 2008

Jenis Hama di Paprika (Aphis-Kutu daun)

Kutu Daun (Aphis gossypii Glover)
Kutu daun termasuk dalam famili Aphididae ordo Homoptera, serangga ini bertubuh lunak, berukuran 4-8 mm. Kelompok Aphids biasanya berkoloni di bawah permukaan daun atau sela-sela daun, hama ini mengekskresikan embun madu, adanya embun madu yang dikeluarkan kutu daun dapat dilihat dengan terdapatnya semut atau embun jelaga yang berwarna hitam. Munculnya embun jelaga ini menyebabkan permukaan daun tertutupi sehingga akan menghambat proses fotosintesis. Aphids menyerang tanaman Cabe, Paprika, Timun, Semangka, Melon, Kubis dan Kailan.

Gejala serangan
Hama ini mengisap cairan daun, sehingga daun tanaman menggulung, sedangkan pucuk tanaman menjadi keriting. Aphids juga merupakan vektor penyakit virus. Pada fase nimfa dan imago dapat mengisap cairan pada dasar bunga, sehingga mengakibatkan bentuk bunga rusak.

Siklus hidup
Perkembangan kutu daun secara partenogenetik dan vivipar. Di daerah tropis umumnya populasi kutu daun dengan cepat, populasi kutu daun sangat tinggi pada awal musim kering, sedangkan pada periode kering yang panjang dan hujan lebat populasinya sangat menurun.

Kebanyakan telurnya hidup di musim dingin, kemudian menghasilkan individu-individu yang tidak bersayap dan bersayap. Pada jenis bentuk-bentuk yang bersayap ini pndah ke tumbuhan inang yang berbeda dan proses produksi berlanjut. Di daerah tropis untuk menyelesaiakan satu siklus hidupnya diperlukan waktu rata-rata 8,2-11, 4 hari.

Teknik pengendalian
Hama Aphids bisa dikendalikan dengan cara melakukan penanaman serempak, sehingga tidak ada perbedaan umur tanaman dalam satu hamparan. Dengan melihat gejala serangan di permukan daun yang kelihatan mengkilap, maka bisa dilakukan penyemprotan dengan pestisida. Pestisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan Aphids adalah Confidor 200 SL, Curacron 500 EC, dan Pegasus 500 SC.

Jenis Hama di Paprika (Thrips)


Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Jenis serangga ini bentuknya kecil, mempunyai sayap seperti duri yang tidak berangka. Kebanyakan jenis ini akan loncat dari satu tempat ke tempat lain, dan gerakannya cukup lincah. Karena kemampuan terbangnya lemah, maka untuk perpindahan da
tempat ke tempat lainnya sangat dipengaruhi oleh angin dan para pekerja dapat juga sebagai mediator perpindahan tempat.

Gejala serangan
Hama ini menyerang mulai dari pembibitan sampai tanaman dewasa. Thrips menyerang tanaman cabai, Paprika, Timun, Semangka dan Melon. Thrips menyerang tanaman dengan cara meraut-mengisap. Gejala serangan terlihat pada pucuk tanaman, daun-daun muda atau tunas-tunas baru keriting bahkan berbecak-becak kekuningan, tanaman keriting dan kerdil tidak dapat membenetuk buah secara normal, sebagai akibat diisapnya isi sel yang kemudian terisi dengan udara. Kalau gejala ini timbul perlu diwaspadai karena tanaman bisa juga telah tertular virus yang dibawa hama thrips.

Siklus hidup
Thrips berukuran sangat kecil antara 0,5 – 1,5 mm. Imago meletakan telur di permukaan bawah daun atau pada kelopak dan mahkota bunga. Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor betina berkisar antara 30-300 butir, tergantung mutu dan jumlah makanan yang tersedia. Thrips mengalami dua instar nimfa dan stadia pupa, nimfa thrips berwarna kekuning-kuningan, sedangkan thrips dewasa berwarna coklat kehitaman. Instar pertama dan kedua merupakan fase aktif, sedang nimfa instar selanjutnya adalah prapupa dan pupa yang mempunyai fase istirahat. Untuk menyelesaikan satu siklus hidup thrips, paling sedikit membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Teknik pengendalian
Teknik pengendalian yang cukup efektif adalah dengan cara pencegahan serangan thrips dengan aplikasi pestisida. Pestisida yang biasa digunakan adalah Agrimec 18 EC, Confidor 200 SL, Curacron 500EC, Mesurol 50 WP, dan Pegasus 500 SC.

Friday, February 8, 2008

Jenis Hama di Paprika (Tungau/mites)


JENIS-JENIS HAMA DAN PENGENDALIANNYA


Ada beberapa jenis-jenis hama yang akan diuraikan dibawah ini, yang dapat menyebabkan kerusakan terhadap tanaman sayuran di dalam greenhouse, berikut cara pengendaliannya.

Tungau (mites)
Tungau yang menyerang tanaman sayuran adalah tungau merah (Tetranychus cinnabarinus Boisduval) dan tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus Bank). Tungau menyerang tanaman dengan memasukan stiletnya menyerang tanaman dengan memasukan stiletnya dengan menyuntikkan air ludahnya yang beracun.

Gejala serangan
Gejala serangan tungau ditandai berupa titik kecil berwarna terang yang kemudian berkembang menjadi bercak tidak teratur berwarna putih atau hijau. Sering juga terjadi perubahan warna daun dari kuning menjadi keperakan. Kemudian kerusakan lainnya adalah daun mengeriting, melengkung dan terpelintir, nekrosis pada daun muda, dan bahkan pada tanaman yang baru tumbuh.

Apabila daun di balik maka pada daun sebelah bawah akan terlihat sekumpulan hama yang tampak seperti titik-titik merah atau kuning.

Siklus hidup
Perkembangan populasi tungau sangat cepat, karena siklus hidupnya pendek dan fertilitasnya tinggi. Pada kondisi udara yang panas dan kelembaban rendah serta sedikit hujan, populasi tungau akan berkembang cepat. Hampir semua telur berpotensi menetas menjadi larva, meskipun telur tersebut tidah dibuahi. Telur yang dibuahi akan berkelamin betina sedangkan yang tidak dibuahi akan berkelamin jantan.

Sejak dari fase larva, spider mite sudah menjadi parasit dan menghisap cairan pada daun-daun tanaman yang terserang, dan semakin berat bila larvanya sudah tumbuh dewasa, karena gerakannya akan semakin aktif dan menyebar ke banyak tanaman.

Teknik pengendalian.
Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan cara menjaga kelembaban agar tetap cukup tinggi, karena tungau menyukai kelembaban yang rendah (<80%)>30ÂșC), sehingga dengan peningkatan kelembaban dan penurunan suhu, akan terjadi kondisi fisik yang kurang mendukung bagi perkembangan tungau, hal ini dapat menghambat kemampuan makan dan menurunkan perkembang biakan tungau.
Alternatif lain adalah pengendalian secara kimiawi, dengan menggunakan pestisida. Jenis pestisida yang digunakan adalah akarisida. Beberapa pestisida yang dapat digunakan adalah Kelthane 200 EC, Agrimec 18 EC, Pegasus 500 EC, Curacron 500 EC, dan Mitac 200 EC.

Pengendalian Hama & Penyakit Sayuran Hidroponik



PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
SAYURAN HIDROPONIK

Istilah hama dan penyakit sering dianggap sama, karena keduanya sama-sama dapat merugikan bagi tanaman dan manusia. Tetapi sebenarnya keduanya berbeda. Hama merupakan binatang yang merusak tanaman dan umumnya merugikan manusia dari segi ekonomi. Kerugian tersebut dihubungkan dengan nilai ekonomi, karena apabila tidak terjadi penurunan nilai ekonomi, maka kehadiran hama tersebut pada tanaman tidak perlu dikendalikan/diberantas. Sedangkan penyakit tanaman dapat berupa bakteri, jamur, ganggang dan virus.

Pada umumnya benih tanaman hidroponik yang digunakan bukanlah asli dari Indonesia, sehingga belum beradaptasi secara luas dengan iklim Indonesia, oleh sebab itu akan menjadi peka terhadap serangan hama dan penyakit. Pengamatan dini terhadap gejala serangan hama dan penyakit merupakan cara yang dapat mempermudah dalam menentukan jenis hama dan penyakit yang menyerang, sehingga dapat mempermudah pula untuk tindakan pengendaliannya.

Tanaman hidroponik juga sangat peka terhadap kekurangan unsur hara. Gejala kekurangan unsur hara ini mirip dengan gejala awal serangan penyakit. Oleh karena itu diperlukan keahlian dan ketelitian dalam menentukan apakah tanaman terserang penyakit atau kekurangan salah satu unsur hara.

a. Pewiwilan
Untuk menghasilkan cabang dan produski buah yang baik, harus dipilih pembentukan tunas yang tumbuh dengan baik. Tunas inilah yang akan menghasilkan pertumbuhan cabang berikutnya. Pada pertumbuhan selanjutnya, cabang yang dibiarkan tumbuh akan menghasilkan cabang yang baru lagi. Cabang yang baru tumbuh ini masih harus diseleksi lagi, tunas yang baik di pelihara sedangkan yang tidak baik dibuang dengan menyisakan 2-4 daun paling bawah. Demikian seterusnya sehingga cabang yang dipelihara tetap dua cabang.

b. Seleksi bunga dan buah
Pembuangan bunga dan buah yang tidak diharapkan harus dilakukan sedini mungkin agar perkembangan bunga dan buah dapat berlangsung dengan baik. Oleh karen itu, setelah buah tumbuh membesar harus dilakukan seleksi buah di pohon. Seleksi buah dapat dilakukan bersamaan dengan pewiwilan, pada saat itu juga dapat di buang bunga yang tidak baik. Setiap buku cabang utama berpotensi menghasilkan dua buah paprika, untuk mendapatkan kualitas yang baik sebaiknya diseleksi hanya satu buah saja yang dibiarkan, agar perkembangan buah menjadi optimal.

Pemeliharaan Tanaman Paprika-1


Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan akan berbeda, ini tergantung dari jenis tanaman apa yang dipilih. Tetapi pemeliharaan pada tanaman paprika pada umumnya sebagai berikut:

a. Pemilihan cabang produksi
Pada tanaman Paprika perlu dilakukan pemilihan cabang utama untuk produksi, dengan hanya membiarkan 2 batang cabang yang hidup sebagai cabang utama. Pemilihan cabang produksi ini dilakukan karena tanaman paprika secure alami akan membentuk semak, dari batang utama akan bercabang dan dari setiap cabang akan membentuk dua cabang sehingga tanaman akan kelihatan bergerombol. Apabila tidak dilakukan pemilihan cabang, akan menghasilakan bunga yang banyak, karena pada sudut diantara dua cabang berpotensi menghasilkan bunga. Pemilihan cabang produksi ini juga dimaksudkan mengefesienkan translokasi hasil fotosintesis dari daun menuju buah dan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar mampu berproduksi dengan baik. Di dalam pemilihan cabang produksi sebaiknya mempunyai kriteria, antara lain :
- kondisi cabang lebih baik dan sehat daripada cabang lain yang tumbuh.
- jarak antar cabang berjauhan dan menghadap keluar.
- ukuran atau besarnya cabang seimbang.
- mempunyai vigor yang baik.
- bebas dari penyakit.

b. Pembuangan daun semu
Daun-daun semu yang tumbuh diantara ketiak daun sebaiknya dibuang. Selain daun tersebut tidak bermanfaat, juga akan menyerap energi hasil asimilasi tanaman itu sendiri. Di dalam pembuangan daun semu ini dapat dilakukan bersamaan dengan pewiwilan.


c. Pengikatan/pengajiran/pelilitan .

pada tanamanTanaman yang tumbuh semakin besar dan tinggi, diperlukan pegangan untuk menopang tumbuhnya tanaman dengan benang/tali agar bisa berdiri tegak sesuai dengan pengaturan jalur yang direncanakan. Pengikatan/pelilitan benang/tali pada tanaman dilakukan bersamaan dengan pewiwilan

Cara Tanam & Pemeliharaan




PENANAMAN

Pemindahan tanaman (transplant) dari nursery ke dalam greenhouse, dilakukan apabila bibit sudah cukup umur untuk di tanam, juga bibit dalam keadaan sehat dan bebas dari penyakit. Sebaiknya pemindahan tanaman dilaksanakan pada pagi hari, karena pada pagi hari evaporasi pada tanaman belum tinggi sehingga kondisi stres tanaman dapat ditekan. Sebab, bibit yang dipindahkan dari nursery ke dalam greenhouse akan mengalami perbedaan kondisi, sehingga penanaman di pagi hari dapat membantu tanaman untuk beradaptasi di dalam greenhouse.


Persiapan tanam
Sebelum tanaman dipindahkan kedalam greenhouse, segala sesuatu yang ada didalam greenhouse harus sudah siap, baik bedengan, kawat penggantung benang ajir, benang ajir, slab yang berisi media tanam maupun sistem irigasi yang sudah siap pakai. Ada beberapa hal juga yang perlu dipersiapkan dan dikerjakan, antara lain pembuatan nutrisi, pembuatan lubang tanam (apabila menggunakan media tanam di slab) dan pengisian atau penyiraman larutan nutrisi dengan EC 2.0 dan pH 5.5 kedalam media tanam sampai jenuh. Maksud pengisian larutan nutrisi ke dalam media tanam slab/polybag agar tanaman yang baru dipindah dapat langsung menyerap unsur hara yang terdapat di media tanam. Sebab, apabila media tanam kering akan merusak sistem perakaran tanaman yang relatif masih muda, sehingga dapat menyebabkan masuknya panyakit ke tanaman dan terganggunya sistem pertumbuhan tanaman. Media tanam yang kering juga dapat menyebabkan akar tanaman tidak dapat menyerap unsur hara yang dibutuhkan, kondisi seperti ini dapat merugikan pertumbuhan tanaman.

Transplant
Transplant adalah pemindahan bibit tanaman kedalam greenhouse untuk diletakan diatas media slabs (media tanam yang terbungkus plastik) atau diletakan diatas polybag dengan jarak tanam tertentu. Pemindahan bibit atau penanaman dilakukan setelah bibit berumur 18-20 hari setelah di polybag atau tanaman mempunyai 6-8 helai daun. Setelah bibit di tanam, apabila menggunakan irigasi tetes, maka regulator stick harus ditancapkan pada media di polybag/block kecil diatas polybag besar atau diatas media slabs. Apabila penanaman selesai dapat dilakukan pembuatan lubang drainase di bawah slab atau polybag besar.

Pembuatan larutan nutrisi
Pada budidaya hidroponik, pemberian nutrisi menjadi kunci penting dari keberhasilan pengusaha/petani. Keterlambatan pemberian nutrisi atau perbandingan unsur yang tidak tepat akan berakibat fatal terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, bahkan dapat menyebabkan kematian. Sebaliknya, apabila pemberian nutrisi dilakukan dengan tepat dan baik, tanaman akan tumbuh optimal dan dapat hidup lebih lama. Agar tanaman tumbuh secara optimal, komposisi unsur hara harus sesuai yang dibutuhkan oleh tanaman, karena masing-masing tanaman membutuhkan formulasi pupuk yang berbeda-beda.

Misalkan pembuatan larutan nutrisi dengan pupuk Nutrisi Hidroponik 90 x 200 liter, artinya adalah pupuk A dilarutkan pada 90 liter air di tangki/bak A dan pupuk B juga dilarutkan pada 90 liter air di tangki/bak B untuk 18.000 liter larutan. Apabila akan melakukan penyiraman dengan laruran nutrisi maka pupuk dari tangki/bak A dan B dilarutkan pada air dalam satu tanki/bak yang siap untuk disiramkan. Volume pupuk dari A & B disesuaikan dengan kebutuhan EC maupun volume penyiraman. Contoh, 1 liter dari pupuk A dan 1 liter dari pupuk B untuk 200 liter air yang dilarutkan, sehingga terdapat 200 liter larutan nutrisi yang siap untuk disiramkan. Tetapi itu tergantung dari kebutuhan EC, semakin tinggi EC yang dibutuhkan untuk penyiraman semakin banyak juga pupuk yang digunakan. Hal ini penting, karena kepekatan larutan nutrisi mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Penyiraman dan Pemupukan
Penyiraman dan pemupukan budidaya secara hidroponik pada umumnya dilakukan secara bersamaan. Penyiraman dan pemupukan sangat menentukan pertumbuhan, produktifitas dan kualitas tanaman, karena tanaman hanya tergantung pada suplai hara yang diberikan, dan tidak ada penunjang dari media yang digunakan.

Teknis penyiraman dan pemupukan dapat dilakukan dengan cara manual atau menggunakan sistem irigasi tetes (drip irigation system).




Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyiraman, yaitu :



Larutan nutrisi yang akan digunakan untuk penyiraman tanaman harus mempunyai
kepekatan (EC) dan nilai pH yang sesuai dengan jenis tanaman dan umur tanaman,
yang dapat diukur dengan alat EC dan PH meter sebelum didistribusikan ke tanaman.


Volume dan kepekatan larutan nutrisi diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman, umurtanaman, virietas dan tipe iklim setempat.Frekuensi penyiraman larutan nutrisi tergantung pada kondisi setempat, dan berbeda antara tanaman yang masih kecil dengan tanaman yang sudah dewasa.



Apabila penyirman larutan nutrisi dengan cara manual (penyiraman dilakukan oleh orang untuk setiap polybag) agar dihitung kebutuhan tenaga kerja tiap satuan luas kebun, sehingga tidak mengalami kesulitan dalam waktu dan frekuensi penyiraman.



Penyiraman larutan nutrisi dengan irigasi tetes perlu diperhatikan pemasangan regulator stick dan pengukuran tekanan agar volume penyiraman dan waktu yang diperlukan untuk menyiram dapat berjalan secara optimal.

Semai & Pembibitan di Nursery


PERSEMAIAN

Sebelum melakuakan persemaian perlu terlebih dahulu dipersiapkan media semai yang sudah ditempatkan di wadah semai (tray/penampan). Media semai tersebut dalam keadaan basah dengan air yang bersih tanpa mengandung nutrisi, tetapi tidak terlalu lembab, Ada beberapa cara untuk melakukan persemaian, yaitu :

a. Meletakan benih di tray/penampan


Apabila benih sudah siap untuk di semai, dan media semai sudah dalam keadaan basah, maka benih dapat dimasukan/diletakan di media dengan menggunakan pinset. Apabila benih sudah selesai dimasukan di media, maka setelah itu tray/penampan dapat ditutup dengan plastik mulsa hitam perak atau dapat juga kertas tisu yang lembab, kemudian letakan persemaian di tempat yang tidak terkena matahari secara langsung atau dapat juga diletakan pada lemari semai.


b. Pengontrolan suhu dan kelembaban


Agar berkecambah dengan baik, setiap jenis tanaman memerlukan kondisi iklim mikro yang berbeda-beda. Pada persemaian paprika memerlukan suhu 24-30ÂșC dan kelembaban 70-85%. Tetapi suhu optimum untuk persemaian paprika 25°C. Perlakuan untuk mengadaptasikan iklim mikro ini dapat mengguakan lampu apabila suhu terlalu rendah, dan dapat menggunakan hand sprayer untuk menyemprot apabila suhu terlalu tinggi.


c. Membuka penutup tray semai


Dalam membuka penutup semai, perlu diperhatikan seberapa banyak benih sudah germinit/tumbuh, karena setiap jenis tanaman mempunyai masa germinit yang berbeda-beda. Pentingnya membuka penutup tray ini adalah apabila penutup terlambat dibuka, kecambah akan menjadi panjang. Pada persemaian paprika penutup tray semai biasanya di buka sekitar 4-5 hari setelah semai


d. Pemindahan tray semai


Pemindahan tray semai ini biasanya dimaksudkan untuk mendapatkan sinar matahari yang cukup, sampai bibit sudah siap untuk dipindah ke polybag/block. Biasanya tray diletakan pada rak semai yang terdapat di nursery.


e. Pembumbunan (transblock)


Setelah bibit mempunyai dua buah daun atau berumur sekitar 7-10 hari setelah semai, dapat dilakuakn pembumbunan atau dipindah ke polybag/block. Pemindahan bibit kecil sebaiknya dengan menggunakan pinset agar mudah dimasukan ke lubang media polybag/block. Sebelum pemindahan bibit sebaiknya media polybg sudah dibuat lubang dengan ukuran yang sesuai, kemudian media di polybag disiram dengan larutan nutrisi dengan EC dan pH yang sesuai.


f. Penyiraman dengan larutan nutrisi


Tanaman yang sudah dipindahkan ke polybag/block, perlu dilakukan penyiraman dengan fungisida agar luka pada akar tidak terinfeksi oleh penyakit, fungisida disiramkan sehari setelah di polybag. Pada penyiraman di polybag dengan larutan nutrisi disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Dalam penyiraman di nursery, dapat juga dilakukan secara manual dengan menggunakan measuring cup atau alat siram dengan ukuran tertentu. Biasanya penyiraman dengan larutan nutrisi dengan kenaikan EC yang bertahap. Misalnya dari EC 2.0 –3.0 yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman. Agar bibit dapat menyerap unsur-unsur hara secara optimal maka pH di dalam media harus sesuai dengan kehendak dari jenis tanaman itu sendiri, untuk paprika biasannya menggunakan pH 5.5 pada pembibitan di dalam nursery.

Penyiraman larutan nutrisi dapat dilakukan tergantung kebutuhan bibit tanaman tersebut, biasanya tidak setiap hari dilakukan penyiraman, tetapi dapat juga melihat kondisi media tanam. Apabila media tanam polybag/block masih lembab atau masih penuh dengan larutan nutrisi maka biasanya penyiraman belum perlu dilakukan, tetapi apabila media polybag sudah mulai kering atau ringan kalau diangkat biasnya dapat dilakukan penyiraman. Kondisi seperti ini biasanya sampai bibit berumur 10 hari setelah di polybag, dan setelah itu biasanya di siram setiap hari satu kali penyiraman.

g. Perawatan tanaman di nursery


Perawatan tanaman di nursery harus benar-benar dilakukan secara sungguh-sungguh dan hati-hati, perawatan ini meliputi pengelolaan hama dan penyakit, kebersihan nursery dan pengaturan jarak antar polybag/block. Pengaturan jarak antar polybag dapat dilakukan pada umur tanaman 10 hari setelah di polybag. Apabila terlihat ada indikasi serangan hama dan penyakit dapat dilakukan secepat mungkin pengendaliannya. Untuk mengetahui indikasi jenis hama tertentu, misalnya thrips, aphids biasanya menggunakan yellow sticky trap dan green sticky trap. Sedangakan pengendalian dengan pestisida tergantung dari jenis hama dan penyakitnya, penyemprotan pestisida dapat dilakukan satu minggu setelah
tanaman di polybag.

PAPRIKA : Tanam dengan sistem hiroponik


PAPRIKA

Tanaman paprika mempunyai nama ilmiah Capsicum anum var, grossum, dan dikenal dengan nama sweet pepper. Jenis cabai ini merupakan tanaman sayuran yang masih relatif baru di kenal oleh masyarakat Indonesia, keistimewaan paprika adalah rasanya yang tidak pedas tetapi cenderung manis, karena paprika tidak mengandung zat capcaisin (C9H12O2) yang menyebabkan rasa pedas.

Budidaya paprika secara hidroponik diperlukan perencanaan yang matang agar diperoleh hasil yang maksimal, karena tujuan dari budidaya secara hidroponik adalah untuk menghasilkan kualitas, produktifitas, dan kontinuitas yang baik.

Pada dasarnya paprika dapat tumbuh pada semua dataran di Indonesia, karena pertumbuhan vegetatif paprika baik pada temperatur 25-30°C dan temperatur optimum untuk perkembangan bunga dan buah adalah 22-25°C pada siang hari dan 18-19°C pada malam hari. Temperatur seperti biasanya terdapat pada dataran menengah dan dataran tinggi di Indonesia, yaitu dengan ketinggian sekitar 700-1500 meter dari permukaan laut. Daerah-daerah yang sudah banyak menanam paprika misalnya di Lembang, Pengalengan, Cipanas, Cianjur, Sukabumi, Nongkojajar, Ijen, Brastagi, Lombok dan Malakaji.

Faktor iklim linnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan paprika adalah intensitas cahaya dan kelembaban. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah 5-7 jam per hari, tetapi diusahakan intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam greenhouse adalah 60-70 %. Kelembaban yang dikehendaki paprika sekitar 60-80%, sebab pada kelembaban yang terlalu rendah dapat menyebabkan aborsi pada bunga, dan pada kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan banyaknya serangan penyakit, misalnya Botrytis dan Antracnosa.

KOMODITI HIDROPONIK


BENIH

Pemilihan benih adalah sangat penting sekali sebagai tolak ukur produktifitas budidaya hidroponik. Hal ini bisa dimengerti, karena produktifitas tanaman tergantung pula terhadap keunggulan jenis benih/bibit yang kita tanam. Pada sekala usaha yang besar, pemilihan atas komoditi atau jenis tanaman yang akan di tanam harus dipikirkan terhadap pemasaran produk yang akan dihasilkan. Dengan varietas yang unggul dan sesuai dengan permintaan pasar, di harapkan pengusaha/petani dapat berproduksi dengan optimal tanpa kesulitan tarhadap pemasarannya.

JENIS TANAMAN

Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan. Sebagai contoh jenis tanaman yang mempunyai nilai jual diatas rata-rata, yaitu:
a. Paprika
b. Tomat
c. Timun Jepang
d. Melon
e. Terong Jepang
f. Selada

Selain jenis tanaman di atas, banyak lagi yang dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik apabila dilakukan hanya pada kegiatan hobby
saja.

APA ITU MEDIA TANAM HIDROPONIK


Dalam budidaya sayuran yang menggunakan sistem hidroponik, ada beberapa bahan dan alat yang perlu dipergunakan antara lain, media tanam, benih, dan larutan nutrisi. Mengingat hidroponik ini bukan suatu keharusan ataupun kebutuhan, melainkan suatu jalan keluar, maka komoditi yang ditanam pun harus mempunyai pasar khusus dengan harga yang khusus pula. Karena komoditi secara hidroponik akan merugi, jika yang ditanam itu adalah jenis tanaman murah dan rendah nilai jualnya. Hal ini adalah karena akibat dari sistem pemeliharaan hidroponik yang memerlukan cara intensif dengan biaya produksi yang relatif lebih tinggi.


MEDIA TANAM

Media tanam hidroponik merupakan bagian yang penting juga untuk menunjang keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Karena itu, media ini harus poros dan dapat mempertahankan kelembaban. Media tanam dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu media untuk persemaian, pembibitan dan media untuk tanaman dewasa. Tetapi biasanya, jenis media yang digunakan disamping dapat untuk persemaian juga dapat pula untuk pemebibitan dan tanaman dewasa.

Media untuk persemaian
Media untuk persemaian dapat menggunakan berupa arang sekam atau rockwool. Untuk persemaian yang menggunakan arang sekam, harus benar-benar diketahui kualitasnya, terutama kebersihan dan bebas dari hama penyakit.

Untuk persemaian yang menggunakan rockwool, akan lebih mudah dalam pemindahan bibit ke media pembibitan, karena persemaian menggunakan potongan-potongan kecil rockwool yang dimasukan ke setiap lubang tray.

Media untuk pembibitan
Dalam pembibitan ini media yang dapat digunakan antara lain arang sekam dan rockwool. Tapi semua media yang digunakan akan memerlukan tempat atau wadah untuk media, tempat atau wadah ini bisa menggunaka polybag atau plastik yang sesuai dengan ukuran media.

Media untuk tanaman dewasa

Media untuk tanaman yang dewasa hampir sama dengan media yang digunakan untuk persemaian atau pembibitan. Akan tetapi ada juga yang mengkombinasikannya dengan media yang berbeda. Misalnya, untuk pembibitan menggunakan media rockwool dan untuk tanaman yang dewasa dengan media arang sekam, ataupun kebalikannya.

Untuk tanaman dewasa media tanamnya harus lebih besar volumnya, karena dalam media ini merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan akar, serta sebagai media untuk menyerap unsur hara.

MATERI DALAM PANDUAN SISTEM HIDROPONIK

POKOK-POKOK MATERI PANDUAN HIDROPONIK

KONSTRUKSI GREENHOUSE
- Pengertian greenhouse dalam pertanian
- Syarat-syarat pembangunan greenhouse
- Bahan pembangun greenhouse
- Bentuk-bentuk bangunan greenhouse
- Fungsi bentuk-bentuk bangunan greenhouse
- Keuntungan greenhouse dalam pertanian

MEDIA TANAM HIDROPONIK
- Pengertian media tanam untuk hidroponik
- Jenis dan fungsi media tanam
- Syarat-syarat media tanam yang baik
- Dimana media tanam dapat diperoleh
- Pembuatan media tanam hidroponik


TEKNIK PERSEMAIAN
- Pengertian semai
- Bahan dan alat umtuk persemaian
- Teknik persemaian
- Registrasi dan pengontrolan

MANAJEMEN NURSERY
- Teknik sterilisasi dan desinfektan
- Teknik pemindahan bibit
- Pemeliharaan bibit di nursery
- Pemupukan dan penyiraman di nursery
- Registrasi dan pengontrolan

TEKNIK BUDIDAYA HIDROPONIK
- Teknik budidaya tanaman paprika, tomat dan timun
- Teknik pemeliharaan
- Pemupukan dan penyiraman
- EC dan pH di dalam media tanam
- Pengendalian hama dan penyakit
- Teknik penyemprotan
- Teknik pemanenan

PEMUPUKAN DAN PENYIRAMAN
- Pengertian pupuk dan penyiraman
- Penyerapan unsur hara oleh tanaman
- Cara pembuatan larutan nutrisi
- EC dan pH di dalam pembuatan larutan nutrisi
- Waktu dan teknik penyiraman dengan sistem manual dan irigasi tetes
- Registrasi dan pengecekan penyiraman
- Unsur hara dan fungsinya

EC DAN PH DALAM SISTEM HIDROPONIK
- Pengertian EC dan pH dalam pertanian
- Fungsi EC dan pH dalam pertanian hidroponik
- Teknik perubahan EC dan pH dalam pembuatan larutan nutrisi
- Teknik perubahan EC dan pH di dalam media tanam
- Masalah yang timbul akibat perubahan EC dan pH

SISTEM IRIGASI HIDROPONIK
- Pengertian irigasi hidroponik
- Bak penyimpan air
- Sistem irigasi tetes (drip irigation system)
- Fungsi dan instalasi irigasi tetes

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
- Pengenalan hama dan penyakit tanaman sayuran hidroponik
- Jenis-jenis hama dan penyakit tanaman sayuran
- Gejala serangan hama dan penyakit tanaman sayuran
- Teknik pengendalian hama dan penyakit

SOSIAL MASYARAKAT
- Pengenalan lingkungan di lokasi kebun
- Hubungan pertanian dengan masyarakat
- Hubungan masyarakat dengan organisasi dan pemerintah
- Aspek sosial dalam penerapan teknologi baru dalam bidang pertanian
- Peranan masyarakat dalam pelaksanaan proyek pertanian

REGISTRASI DAN PENGAMATAN
- Pengertian registrasi dan pengamatan dalam sistem hidroponik
- Fungsi dan tujuan registrasi dan pengamatan
- Teknik registrasi dan pengamatan

ANALISA HASIL DAN PASCA PANEN
- Analisa hasil per tanaman dan per satuan luas
- Analisa hasil produksi per tahun
- Perencanaan panen
- Teknik quality control
- Teknik pengepakan
- Transportasi dan distribusi

TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN SECARA HIDROPONIK




PENDAHULUAN

Pandun hidroponik komersial ini didasarkan pada pengalaman, penelitian dan pengamatan saya terhadap teknologi hidroponik yang telah diterapkan lebih dari
14 tahun di Indonesia. Panduan ini merupakan salah satu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan petani maupun perusahaan pertanian yang ingin menerapkan teknologi pertanian, agar dapat meningkatkan produktifitas maupun kualitas dengan hasil produksi yang kontinyu.

Kurangnya para pengusaha dan petani yang berkecimpung dalam memproduksi sayuran dengan teknologi hidroponik agar berkualitas dan berkesinambungan, menyebabkan lambatnya laju pertumbuhan produksi dan tingkat persaingan yang kurang tajam. Kendala utama untuk menerapkan teknologi tersebut adalah kurangnya tenaga terampil, terutama pada tingkat manager.

PENGENALAN

Budidaya pertanian yang menggunakan teknologi hidroponik, tidak lepas dari sarana yang dapat menunjang optimalisasi dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mengingat hidroponik ini bukan suatu keharusan, melainkan suatu jalan keluar, maka komoditi yang ditanam pun harus mempunyai pasar khusus dengan harga khusus pula.


Sarana penunjang tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang saling terkait pada suatu sistem hidroponik. Ada beberapa hal yang penting agar hidroponik secara kualitas dan kuantitas dapat berhasil, antaralain sumber daya manusia, manajemen kebun, greenhouse, nursery, sistem irigasi, benih, media tanam dan peralatan pendukung lainnya. Dengan demikian, praktek yang berlangsung secara aktif di dalam kebun produksi akan dapat memberikan ketrampilan secara menyeluruh terhadap penerapan teknik budidaya tanaman sayuran menggunakan teknologi hidroponik